RESPONSE
PAPER INDIVIDU
Nama : Pasiska
RISALAH
MUHAMMAD
Ulumul
Quran Zaman Kita : DR. Ingrid Mattson
Al-Qur’an
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai petunjuk umat manusia, dalam hal
itu ada sebuah makna besar kenapa Al-Qur’an harus diturunkan kepada Nabi
Muhammad, tentu saja hal itu merupakan sebuah pertanyaan besar dan ada apa hal
tersebut harus terjadi, tetapi yang jelas Allah memiliki alasan yang mungkin
cukup hikmah atas kenapa Al-Qur’an kenapa harus diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW. Dan hal itulah akan kita kupas dalam buku karangan DR. Ingrid Mattson.
Diawali dengan bagaimana kesejarahan
Al-Qur’an yang mana Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad itu tidak
langsung turun secara sekaligus sebagai kitab, “akan tetapi Al-Qur’an itu di
turunkan secara bertahap, ayat demi ayat selama dua puluh tiga Tahun, kemudian
ayat terebut dikumpulkan menjadi sebuah himpunan Ayat-Ayat Al-Qur’an dengan
jumlah surah 144 Surah. Namun tetapi hal tersebut tidak disebutnya bagaimana
Kronologi turunnya ayat-ayat tersebut, namun tentu saja hal ini akan membuat
kaum muslim tertarik untuk mengakji hal tersebut, namun pada kontek proses
turunnya wahyu juga perlu dipahami agar dapat menarik sebuah hukum atau
setidaknya dapat mengambil pelajaran dari hal tersebut secara hikmah, namun
yang jelas butuh pemahaman yang lebih mendalam baik pemahaman secara kontektual
maupun secara.
Meskipun demikian Al-Qur’an tidak
memaparkan bagaimana kehidupan Muslim pertama dan kehidupan Rasul pada umumnya
dan lain sebagainya tentang hal itu, tetapi dalam beberapa dekade ada banyak
karya-karya yang muncul yang berkaitan dengan kesejarahan Nabi dengan berbagai
versi,walaupun pada akhirnya muncul kontroversial dari kalangan sarjana
kontemporer, yang mana mempermasalahkan tetntang bagaimana penulisannya dan
sumber literturnya karena alasan kelangkaan rujukan sumber, tentu saja
meragukan keaslian dan keatutentikan dokumen diragukan.
Dan
hal inilah membuat ilmuan muslim menjadi lebih hati-hati lagi dalam menjaga ke
autentikan sumber terbukti telah banyak lahir ilmu Ulumul Hadis, Usul Fiqh dan
lain-lain hal ini berguna menjaga keautentikan sebuah dokumen. Meskipun ada
fenomena perbedaan yang terjadi dikalangan umat Islam Sunni dan Syi’ah yang
berbeda dalam memberikan pandangan baik dalam tafsir,historis,hukum dan
teologi. Meskipun demikian bahwa perdebatan tersebut tidak menafikan kenyataan
yang terjadi dalam peristiwa besar dalam kehidupan Nabi yang terhimpundalam
tradisi umat Islam terdahulu dan diakui sebagai fakta sejarah.
Ada
banyak ayat Al-Qur’an yang menggambarkan kondisi psikis Nabi ketika memulai
dakwah, sebagai gambaran bahwa nabi mengalami ketakutan ketika malaikat
mendekapnya dengan selimut, dan ulama berpendapat bahwa Allah menyuruh nabi
untuk bangun dan memulai melakukan dakwahnya.dan hal yang lain ketika Ayat-ayat
diterjemahkan memunculkan kesesuaian antara nada ayat dan maknanya, karenanya
Al-Qur’an sangat terkait erat dengan maknanya dan itulah membuat orang tertaik
ketika mendengarkan ayat-ayat dibacakan,namun Tuahan juga menyampaikan
Ayat-ayat Al-Qur’an dengan nada yang lembutdan lebih akrab yang menentramkan
hati, meskipun ada awal wahyu dturunkan tidak sedikit yang menolak sebagai
firman Allah dan merendahkannya.
Maka
dari itu Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad perintah pertama kali
bagaimana tentang membaca dan berTuhan atau bertauhid, yang selama ini terjadi
di masyarakat Arab yakni menyebah berhala sebagai ajaran nenek moyangnya, pada
hal zaman itu sudah pernah ada Nabi yang juga mengajarkan tentang ketauhidan
yakni menyembah Tuhan yang Esa, yang mengajarkan pada manusia merdeka berhukum
dan bermoral dalam kehidupan sosial yang seharusnya mendajdi tujuan akhir
seorang umat yang menghambakan diri hambanya kepada Tuhan yang maha Esa.
Karena
dengan bertauhidnya manusia hanya kepada Tuhan yang maha esa ini akan dapat
membangun peradaban manusia yang lebih maju dan dapat menjadi sebuah Negara
yang kuat dan mandiri sertamakmur dan memiliki semangat bekerja, menuntut ilmu
sebuah keharusan untuk mampu menjalankan amanah kekhalifahan sebagai manusia
hamba nya Allah dengam menjalankan perintah untuk beribadah kepadanya tanpa memandang
orang miskin dan kaya,walaupun pada awal-awalnya diturunkan wahyu mendapat
banyak peretentangan tentang kebenaran akan wahyu Allah yang dibawa oleh Nabi
Muhammad seperti Abu Lahab dan lain-lain, karena kesabaran Nabi dalam
menyebarkan agama Islam maka Allah pun memberikan kemenangan yang besar yakni
penaklukkan kota Mekkah tanpa adanya pertumpahan darah, dan tak lama akan
kemenangan itu nabi pun Wafat dan langitpun tertutup tidak ada lagi nabi dan
wahyu, hal tersebutlah membuat banyak umat muslim ketika itu merasa sedih dan
kehilangan.
Pada
awal pembahasan penulis berusaha menyajikan sejarah al-Quran dan proses
periwayatan- nya yang penuh dengan dilema. Permasalahan mendasar yang dialami
oleh para ulama adalah bagaimana cara memahami hubungan antara al-Quran dengan
kehidupan masyarakat kala itu, sementara dalam al Quran sendiri lebih banyak
membahas tentang peperangan dari pada tentang kehidupan nabi dan masyarakat
muslim awal islam. Oleh karena itu, pada akhir abad ke-2 Hijriyah mulai muncul
pembukuan biografi kisah nabi dan para sahabat. Namun, para ulama kekinian
memperdebatkan sumber autentik dalam penulisan itu, dikarnakan pada awal abad
hijriyah dokumen yang menjelaskan perihal tersebut sangat minim. Selain itu,
para periwayatnya pun harus diuji karena dikhawatirkan munculnya pemalsuan
dalam hadis.
Pada
bab ini terkait penelusuran cara pewahyuan al Quran, penulis lebih menekankan
pada asbabunnuzul dari pada menggunakan sirah. Dalam buku ini
penulis berusaha menyampaikan kepada pembaca bagaimana al-Quran itu datang
dengan menyampaikan pesan yang tersirat maupun yang tersurat. Dengan gaya bahasa
yang menurut para teolog menunjukkan keagungan Tuhan (mudatstsir, an-driz,
kabbir, tahhir, fahjur) dalam surat al-Mudatstsir ayat
1-5, seakan-akan Allah menyampaikan pesan kepada nabi bahwa inilah saat yang
tepat untuk berdakwah.
Saat
berdakwah, nabi diperintahkan untuk mengesakan bahwa hanya Allah-lah zat yang
disembah dan tidak memiliki sekutu. Seperti yang tergambar dalam surah
al-Ikhlas ayat 1-3. Surat ini merupakan surah terpendek yang setara dengan
sepertiga dari al-Quran. Dalam surah ini Tuhan menyebut dirinya sebagai Allah
Zat Yang Maha Esa yang tiada sekutu baginya (pemahaman tuhan dari ajaran nabi
Ibrahim sama dengan ajaran nabi Muhammad). Tentu saja masyarakat kala itu lebih
banyak yang menentangnya. Bukan permasalahan idiologi melainkan karena ajaran
leluhur yang sudah mengakar. Pesan inilah yang kerap disampaikan dalam
surah-surah yang tergolong Makkiyah.
Selain
itu, dalam surah Makiyah juga banyak menggambarkan tentang keyakinan kaum
muslim yang tidak bisa bersanding dengan keyakinan orang kafir. Sehingga masa
awal pewahyuan merupakan masa yang sangat berat. Kaum muslim banyak yang
ditindas oleh kaum kafir. Mungkin kekerasan ini tidak berdampak langsung kepada
nabi yang kala itu masih dibawah perlindungan pamannya Abu Thalib. Namun hal
ini tidak berlaku bagi para budak, sebagaimana yang dialami oleh Bilal sebelum
dibebaskan oleh Abu Bakar.
Tekanan
dari kaum Quraisy begitu dirasakan oleh nabi sepeninggal istri beliau Khadijah
dan paman beliau Abu Thalib. Namun, setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj, nabi
mendapatkan respon positif dari masyarakat kota Yastrib. Mereka
berbondong-bondong memeluk islam dan menjalin kerjasama politik. Satu tahun
setelah itu, nabi mengajak pengikut beliau yang berada di Makkah untuk pindah
ke Yastib yang saat itu berganti nama menjadi Madinah. Dikota itu kaum muslim
bebas beribadah.
Tantangan
pertama yang harus dihadapi nabi adalah bagamana menjalani peran baru sebagai
pemimpin negara dalam membangun tatanan sosial politik yang dapat menaungi
semua pihak. Dikota tersebut ada tiga golongan yang mendominasi yakni kaum
Muhajirin, kaum Anshor, dan komunitas Yahudi. Sehingga untuk membangun tatanan
negara yang elok, nabi membuat sebuah perjanjian yang dikenal dengan “Perjanjian
Madinah”. Di dalamnya telah diterangkan berbagai hak dan kewajiban dari ketiga
belah pihak. Setelah kaum Muhajirin memiliki pijakan yang kuat dimadinah,
mereka bertekad untuk melawan ketidakadilan kaum Quraisy . Oleh karena itu
turunlah surah al-Hajj ayat 39-40 yang merupakan ayat pertama yang mengizinkan
kaum muslim berperang.
Walaupun
pada periode Madinah sarat dengan peperangan, namun fokus utama Madinah adalah
membangun komunitas. Sehingga kebanyakan ayat Madaniyah lebih bersifat
membangun moral dan ketakwaan masysarakat muslim. Mulai dari ayat tentang
zakat, solat berjamaah, waris, pernikahan, dan hal-hal yang tekait kehidupan
sosial politik. Selain itu, pesan yang terus diungkap pada ayat Madaniyah
adalah selalu mematuhi perintah nabi sebagaimana keharusan mematuhi perintah
Tuhan.
Sepuluh
tahun setelah nabi hijrah, tepatnya pada tahun 632 M, Nabi Muhammad wafat
setelah beberapa lama sakit. Banyak orang yang tidak percaya akan kematian
beliau termasuk juga Umar. Namun, Abu Bakar datang untuk menyakinkan Umar dan
kaum muslim kala itu dengan membaca Q.S. Ali Imran ayat 144. Inilah kali
pertama para sahabat tidak bisa menanyakan penjelasan maknanya al-Quran kepada
nabi saat mereka membacanya. Sehingga dengan kepergian Nabi akhir zaman
tertutup pula pintu langit untuk menurunkan wahyu.
Dari
pemaparan tersebut, al-Quran menunjukan dirinya turun dalam berbagai situati.
Mulai dari ayat pertama yang memerintahkan untuk membaca, perintah berdakwah,
lalu ketenangan yang dijanjijan Allah, peperangan, konflik, tatanan sosial
politik, yang semua ini menunjukan bahwa kebanyakan ayat al-Quran turun karna
adanya sebab. Dengan tidak tersusunnya ayat al-Quran secara kronologis, lalu
bagaimana cara penyusunan ayat dalam al-Quran yang begitu sinkron antara bahasa
dan makna, sementara pembukuan al-Quran telah terjadi berabad-abad setelah
wafatnya Rasulullah ?
No comments:
Post a Comment