Pages

Friday, August 9, 2019

contoh Respon Pepper Kuliah


RESPONSE PAPER INDIVIDU
Nama                           : Pasiska

RISALAH MUHAMMAD
Ulumul Quran Zaman Kita : DR. Ingrid Mattson

Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai petunjuk umat manusia, dalam hal itu ada sebuah makna besar kenapa Al-Qur’an harus diturunkan kepada Nabi Muhammad, tentu saja hal itu merupakan sebuah pertanyaan besar dan ada apa hal tersebut harus terjadi, tetapi yang jelas Allah memiliki alasan yang mungkin cukup hikmah atas kenapa Al-Qur’an kenapa harus diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan hal itulah akan kita kupas dalam buku karangan DR. Ingrid Mattson.
            Diawali dengan bagaimana kesejarahan Al-Qur’an yang mana Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad itu tidak langsung turun secara sekaligus sebagai kitab, “akan tetapi Al-Qur’an itu di turunkan secara bertahap, ayat demi ayat selama dua puluh tiga Tahun, kemudian ayat terebut dikumpulkan menjadi sebuah himpunan Ayat-Ayat Al-Qur’an dengan jumlah surah 144 Surah. Namun tetapi hal tersebut tidak disebutnya bagaimana Kronologi turunnya ayat-ayat tersebut, namun tentu saja hal ini akan membuat kaum muslim tertarik untuk mengakji hal tersebut, namun pada kontek proses turunnya wahyu juga perlu dipahami agar dapat menarik sebuah hukum atau setidaknya dapat mengambil pelajaran dari hal tersebut secara hikmah, namun yang jelas butuh pemahaman yang lebih mendalam baik pemahaman secara kontektual maupun secara.
            Meskipun demikian Al-Qur’an tidak memaparkan bagaimana kehidupan Muslim pertama dan kehidupan Rasul pada umumnya dan lain sebagainya tentang hal itu, tetapi dalam beberapa dekade ada banyak karya-karya yang muncul yang berkaitan dengan kesejarahan Nabi dengan berbagai versi,walaupun pada akhirnya muncul kontroversial dari kalangan sarjana kontemporer, yang mana mempermasalahkan tetntang bagaimana penulisannya dan sumber literturnya karena alasan kelangkaan rujukan sumber, tentu saja meragukan keaslian dan keatutentikan dokumen diragukan.
Dan hal inilah membuat ilmuan muslim menjadi lebih hati-hati lagi dalam menjaga ke autentikan sumber terbukti telah banyak lahir ilmu Ulumul Hadis, Usul Fiqh dan lain-lain hal ini berguna menjaga keautentikan sebuah dokumen. Meskipun ada fenomena perbedaan yang terjadi dikalangan umat Islam Sunni dan Syi’ah yang berbeda dalam memberikan pandangan baik dalam tafsir,historis,hukum dan teologi. Meskipun demikian bahwa perdebatan tersebut tidak menafikan kenyataan yang terjadi dalam peristiwa besar dalam kehidupan Nabi yang terhimpundalam tradisi umat Islam terdahulu dan diakui sebagai fakta sejarah.
Ada banyak ayat Al-Qur’an yang menggambarkan kondisi psikis Nabi ketika memulai dakwah, sebagai gambaran bahwa nabi mengalami ketakutan ketika malaikat mendekapnya dengan selimut, dan ulama berpendapat bahwa Allah menyuruh nabi untuk bangun dan memulai melakukan dakwahnya.dan hal yang lain ketika Ayat-ayat diterjemahkan memunculkan kesesuaian antara nada ayat dan maknanya, karenanya Al-Qur’an sangat terkait erat dengan maknanya dan itulah membuat orang tertaik ketika mendengarkan ayat-ayat dibacakan,namun Tuahan juga menyampaikan Ayat-ayat Al-Qur’an dengan nada yang lembutdan lebih akrab yang menentramkan hati, meskipun ada awal wahyu dturunkan tidak sedikit yang menolak sebagai firman Allah dan merendahkannya.
Maka dari itu Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad perintah pertama kali bagaimana tentang membaca dan berTuhan atau bertauhid, yang selama ini terjadi di masyarakat Arab yakni menyebah berhala sebagai ajaran nenek moyangnya, pada hal zaman itu sudah pernah ada Nabi yang juga mengajarkan tentang ketauhidan yakni menyembah Tuhan yang Esa, yang mengajarkan pada manusia merdeka berhukum dan bermoral dalam kehidupan sosial yang seharusnya mendajdi tujuan akhir seorang umat yang menghambakan diri hambanya kepada Tuhan yang maha Esa.
Karena dengan bertauhidnya manusia hanya kepada Tuhan yang maha esa ini akan dapat membangun peradaban manusia yang lebih maju dan dapat menjadi sebuah Negara yang kuat dan mandiri sertamakmur dan memiliki semangat bekerja, menuntut ilmu sebuah keharusan untuk mampu menjalankan amanah kekhalifahan sebagai manusia hamba nya Allah dengam menjalankan perintah untuk beribadah kepadanya tanpa memandang orang miskin dan kaya,walaupun pada awal-awalnya diturunkan wahyu mendapat banyak peretentangan tentang kebenaran akan wahyu Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad seperti Abu Lahab dan lain-lain, karena kesabaran Nabi dalam menyebarkan agama Islam maka Allah pun memberikan kemenangan yang besar yakni penaklukkan kota Mekkah tanpa adanya pertumpahan darah, dan tak lama akan kemenangan itu nabi pun Wafat dan langitpun tertutup tidak ada lagi nabi dan wahyu, hal tersebutlah membuat banyak umat muslim ketika itu merasa sedih dan kehilangan.




Pada awal pembahasan penulis berusaha menyajikan sejarah al-Quran dan proses periwayatan- nya yang penuh dengan dilema. Permasalahan mendasar yang dialami oleh para ulama adalah bagaimana cara memahami hubungan antara al-Quran dengan kehidupan masyarakat kala itu, sementara dalam al Quran sendiri lebih banyak membahas tentang peperangan dari pada tentang kehidupan nabi dan masyarakat muslim awal islam. Oleh karena itu, pada akhir abad ke-2 Hijriyah mulai muncul pembukuan biografi kisah nabi dan para sahabat. Namun, para ulama kekinian memperdebatkan sumber autentik dalam penulisan itu, dikarnakan pada awal abad hijriyah dokumen yang menjelaskan perihal tersebut sangat minim. Selain itu, para periwayatnya pun harus diuji karena dikhawatirkan munculnya pemalsuan dalam hadis.
Pada bab ini terkait penelusuran cara pewahyuan al Quran, penulis lebih menekankan pada asbabunnuzul dari pada menggunakan sirah. Dalam buku ini penulis berusaha menyampaikan kepada pembaca bagaimana al-Quran itu datang dengan menyampaikan pesan yang tersirat maupun yang tersurat. Dengan gaya bahasa yang menurut para teolog menunjukkan keagungan Tuhan (mudatstsir, an-driz, kabbir, tahhir, fahjur) dalam surat al-Mudatstsir ayat 1-5, seakan-akan Allah menyampaikan pesan kepada nabi bahwa inilah saat yang tepat untuk berdakwah.
Saat berdakwah, nabi diperintahkan untuk mengesakan bahwa hanya Allah-lah zat yang disembah dan tidak memiliki sekutu. Seperti yang tergambar dalam surah al-Ikhlas ayat 1-3. Surat ini merupakan surah terpendek yang setara dengan sepertiga dari al-Quran. Dalam surah ini Tuhan menyebut dirinya sebagai Allah Zat Yang Maha Esa yang tiada sekutu baginya (pemahaman tuhan dari ajaran nabi Ibrahim sama dengan ajaran nabi Muhammad). Tentu saja masyarakat kala itu lebih banyak yang menentangnya. Bukan permasalahan idiologi melainkan karena ajaran leluhur yang sudah mengakar. Pesan inilah yang kerap disampaikan dalam surah-surah yang tergolong Makkiyah.
Selain itu, dalam surah Makiyah juga banyak menggambarkan tentang keyakinan kaum muslim yang tidak bisa bersanding dengan keyakinan orang kafir. Sehingga masa awal pewahyuan merupakan masa yang sangat berat. Kaum muslim banyak yang ditindas oleh kaum kafir. Mungkin kekerasan ini tidak berdampak langsung kepada nabi yang kala itu masih dibawah perlindungan pamannya Abu Thalib. Namun hal ini tidak berlaku bagi para budak, sebagaimana yang dialami oleh Bilal sebelum dibebaskan oleh Abu Bakar.
Tekanan dari kaum Quraisy begitu dirasakan oleh nabi sepeninggal istri beliau Khadijah dan paman beliau Abu Thalib. Namun, setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj, nabi mendapatkan respon positif dari masyarakat kota Yastrib. Mereka berbondong-bondong memeluk islam dan menjalin kerjasama politik. Satu tahun setelah itu, nabi mengajak pengikut beliau yang berada di Makkah untuk pindah ke Yastib yang saat itu berganti nama menjadi Madinah. Dikota itu kaum muslim bebas beribadah.
Tantangan pertama yang harus dihadapi nabi adalah bagamana menjalani peran baru sebagai pemimpin negara dalam membangun tatanan sosial politik yang dapat menaungi semua pihak. Dikota tersebut ada tiga golongan yang mendominasi yakni kaum Muhajirin, kaum Anshor, dan komunitas Yahudi. Sehingga untuk membangun tatanan negara yang elok, nabi membuat sebuah perjanjian yang dikenal dengan “Perjanjian Madinah”. Di dalamnya telah diterangkan berbagai hak dan kewajiban dari ketiga belah pihak. Setelah kaum Muhajirin memiliki pijakan yang kuat dimadinah, mereka bertekad untuk melawan ketidakadilan kaum Quraisy . Oleh karena itu turunlah surah al-Hajj ayat 39-40 yang merupakan ayat pertama yang mengizinkan kaum muslim berperang.
Walaupun pada periode Madinah sarat dengan peperangan, namun fokus utama Madinah adalah membangun komunitas. Sehingga kebanyakan ayat Madaniyah lebih bersifat membangun moral dan ketakwaan masysarakat muslim. Mulai dari ayat tentang zakat, solat berjamaah, waris, pernikahan, dan hal-hal yang tekait kehidupan sosial politik. Selain itu, pesan yang terus diungkap pada ayat Madaniyah adalah selalu mematuhi perintah nabi sebagaimana keharusan mematuhi perintah Tuhan.
Sepuluh tahun setelah nabi hijrah, tepatnya pada tahun 632 M, Nabi Muhammad wafat setelah beberapa lama sakit. Banyak orang yang tidak percaya akan kematian beliau termasuk juga Umar. Namun, Abu Bakar datang untuk menyakinkan Umar dan kaum muslim kala itu dengan membaca Q.S. Ali Imran ayat 144. Inilah kali pertama para sahabat tidak bisa menanyakan penjelasan maknanya al-Quran kepada nabi saat mereka membacanya. Sehingga dengan kepergian Nabi akhir zaman tertutup pula pintu langit untuk menurunkan wahyu.
Dari pemaparan tersebut, al-Quran menunjukan dirinya turun dalam berbagai situati. Mulai dari ayat pertama yang memerintahkan untuk membaca, perintah berdakwah, lalu ketenangan yang dijanjijan Allah, peperangan, konflik, tatanan sosial politik, yang semua ini menunjukan bahwa kebanyakan ayat al-Quran turun karna adanya sebab. Dengan tidak tersusunnya ayat al-Quran secara kronologis, lalu bagaimana cara penyusunan ayat dalam al-Quran yang begitu sinkron antara bahasa dan makna, sementara pembukuan al-Quran telah terjadi berabad-abad setelah wafatnya Rasulullah ?

No comments:

Post a Comment