Pages

Sunday, August 2, 2015

 
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) & Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM)
 SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM BUMI SILAMPARI LUBUKLINGGAU ( STAIS - BS )
Siap selalu berjuang untuk kemaslahatan ummat.

 
Seiring dengan pesatnya hubungan Negara Indonesia semakin banyak pula para investor yang akan berinvestasi di Indonesia ini mulai dari Minyak dan gas, Mineral dan Batu Bara, hingga hasil alam perkebunan .
Pada sisi positif nya akan membantu menyediakan lapangan pekerjaan serta ketersediaan nya pemasukan kas Negara
Namun disisi lain kekayaan yang ada di Bumi Nusantara ini semakin hari akan semakin habis terkuras, dan tak menjadi rahasia lagi ketika pemimpin negeri ini suka meminjam kan uang kepada Negara lain.
Fenomena didaerah yang terjadi malah tambah parah, pada ketika banyak nya investor yang berinvestasi di wilayahnya
Tidak sedikit para pejabat daerah yang melakukan penjualan atas lahan rakyat
Melakukan pengambilan dapur prouk nya rkayat dengan dalih bahwa " segala yang ada di wilayah ini adalah milik Negara " dan apa bila di minta ganti rugi hanyalah sedikit sekali kebanyakan tidak sesuai dengan harapan masyarakat
Dan di satu sisj pengambilan lahan rakyat pun dengan cara pemaksaan .
Seperti yang terjadi pada Desa Petunang, Kec Tuah Negeri, Musi Rawas Sum sel pada tahun 2014
Oknum kepala desa A Safei DH dengan di bantu anak nya Ade Lesmana Chandra dengan lancang berani menjual lahan rakyat kepada investor yakni PT EVANS LESTARI
Yang jumlahnya tidak sedikit yakni 8000 Ha
Yang mencakupi seluruh wilayah Desa Petunang dan sekitarnya .
Termasuk Mesjid, Sekolah, Pemakaman Umum dan fasilitas umum lainnya terjual
Dan masih bayak lagi penyelewengan yang terjadi selama dua periode kepemimpinan nya memimpin Desa Petunang
Namun dengan tidak hentinya masyarakat berjuang serta di bantu oleh pemuda dan mahasiswa serta organisasi mahasiswa HMI dan BEM SELURUH LUBUKLINGGAU akhirnya hak- hak rakyat akhirnya dapat kembali lagi
Hanya saja cuma kades nya saja yang di penjara anak dan anggota nya yang terlibat tidak di tangkap dan penjara
Yang ini masih menjadi pertanyaan besar
Keadilan hari ini kemana.
Hukuman yang di jatuhkanpun kepada oknum kades itu cuma 2 tahun penjara.
Semoga hukum di negeri ini semakin hari semakin beres.





 - Desember 2015 merupakan moment masyarakat untuk menentukan pemimpin yang akan di pilih secara langsung, pesta demokrasi ini tentunya memunculkan pemimpin baru yang dipilih langsung oleh rakyat, yang nanti akan memimpin daerah nya masing -masing
Adalah kabupaten Musi Rawas & Musi Rawas Utara .
Dua kabupaten ini merupakan kabupaten yang terbilang baru karena proses pemekaran daerah.

Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam - Bumi Silampari ( MPM-STAIS-BS ) PASISKA
"Mengajak seluruh masyarakat Musi Rawas dan masyarakat Musi Rawas Utara
Beserta elemen- masyarakat, pemudah, mahasiswa dan pemuka agama untuk berpartisipasi guna mensukseskan pemilihan Bupati pada dua wilayah kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten Musi Rawas Utara dengan tertib dan bersih. Mengajak untuk memilih pemimpin yang benar- benar untuk rakyat
Serta bagaimana pemilihan Bupati ini tidak terjadinya politik uang.
Pahami karakter setiap calon, baik program visi misi maupun rekam jejak, agar rakyat tidak tertindas, hasil bumi terkuras . Dan tidak sedikit pemimpin harini yang rela menjual rakyat nya sendiri demi kepentingan pribadi dan kelompoknya .
Pilih pemimpin yang benar- benar yang siap melayani rakyat ."

Pemuda dan mahasiswa merupakan agent terdepan dalam memplopori pembangunan bangsa khususnya, pembangunan daerahnya masing- masing.
Dengan segala keadaan ekonomi yang kurang menguntungkan bagi masyarakat sudah sewajarnya para calon pemimpin daerah ini bergerak maju dan berusaha berjuang memberikan kontribusi nya melalui program-program yang membantu masyarakat.
Di sisi lain kebebasan raky
at dalam memilih pemimpinnya haruslah di junjung tinggi dengan asas jujur dan bersih .memetz

Sunday, January 11, 2015

hmi komisariat stais bs lubuklinggau




Mahasiswa dan Tanggung Tawab Intelektual
Mahasiswa sering diidentifikasikan sebagai kaum penggerak perubahan atau agent of change. Apabila berbicara mengenai mahasiswa, sudah pasti kita terbayang sosok tubuh muda yang sedang berada di menara gading dan mempunyai daya intelektual yang tinggi. Mahasiswa memiliki karakter idealis. Apa yang dimaksudkan dengan idealis ialah mahasiswa masih belum dipengaruhi oleh kepentingan pribadi, juga belum terbebani oleh beban sejarah atau beban tanggungjawab dan jawatan. Artinya mahasiswa masih bebas menempatkan diri pada posisi yang dia anggap terbaik, tanpa adanya percampuran dan bebanan yang terlalu besar. Sehingga dengan demikian mahasiswa memiliki peran setrategis dalam melakukan perubahan masyarakat yang lebih baik.
Identifikasi yang diberikan kepada mahasiswa diatas sangatlah wajar, mengingat perjalanan sejarah bangsa Indonesia, mahasiswa turut serta mengukirnya. Mahasiswa mengiringi perubahan-perubahan masyarakat (bahkan menjadi aktornya) dari mulai sebelum kemerdekaan yakni akhir abad 19 dengan situasi politik etis, setelah kemerdekaan atau masa orde lama, masa orde baru dan bahkan ketika reformasi digulirkan pada tahun 1998. Semangat muda semangat melakukan perubahan yang dimiliki mahasiswa memberikan catatan sejarah bahwa hadirnya mahasiswa disetiap perubahan ialah kemelekatan terhadap status mahasiswa itu sendiri.
Namun, ketika melihat kondisi mahasiswa saat ini yang cenderung lebih indifidualis atau bisa dibilang kurang peka terhadap sosial masyarakat membuat sebutan mahasiswa sebagai agent of change perlu ditilik kembali. Kepekaan sosial itulah yang membangun suatu kesadaran untuk melakukan perubahan. Ketika kondisi masyarakat dianggap tidak baik, tidak ideal, penuh kesengsaraan misalnya maka mahasiswa yang peka secara sadar akan melakukan perubahan di dalam masyarakat itu. Akan tetapi bagaimana caranya mahasiswa menjadi agen penggerak perubahan jika tidak peka dan mempunyai kesadaran. Itulah realitas yang terjadi pada mahasiswa saat ini, kurang peka terhadap kondisi masyarakatnya sehingga kesadaran dalam melakukan perubahan sangat sedikit.
Mahasiswa yang notabennya aktor penggerak perubahan justru larut dalam perubahan itu. Bahkan menurut pemateri, gerakan-gerakan perubahan yang seharusnya dipikul di pundak mahasiswa, saat ini diambil alih oleh para buruh dan petani. Buruh dan petani apabila kita lihat dari kapasitasnya secara intelektual, mereka kalah dengan mahasiswa. Mahasiswa terdidik sedangkan buruh dan petani merupakan kelompok masyarakat kelas bawah. Hal tersebut merupakan sebuah kemunduran dari mahasiswa. Tidak bermaksud meremehkan gerakan buruh, namun mahasiswa yang lebih memiliki akses pendidikan, jaringan dan faktor lain yang mendukung perubahan seharusnya menjadikan mahasiswa sebagai pelopor. Karena ketidakpekaan itulah yang membuat mahasiswa lupa akan tanggungjawabnya, sehingga gerakan perubahan diambil alih oleh buruh dan petani.
Sebelumnya kita perlu ketahui bahwa universitas sebagai lembaga yang menempa mahasiswa mempunyai beberapa jenis produk alumni yang dihasilkan. Pertama ialah sarjana, setiap mahasiswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan strata satu di Universitas maka secara otomatis gelar sarjana pun didapatkan. Namun apa cukup hanya memiliki status sarjana? Padahal sesuai dengan sumpah baktinya ketika diwisuda yakni akan mendarma bakhtikan ilmunya untuk kemaslahatan masyarakat. Maka munculah ilmuan, yang kedua ini juga produk alumni universitas. Namun ilmuan ialah orang yang tidak sekedar mendapatkan gelar kesarjanaan, mereka ahli dalam bidang keilmuan yang kemudian berupaya menjelaskan pengetahuan dari keilmuannya untuk masyarakat.
Ketiga yakni cendikiawan menurut Dr. Ali Shariati adalah orang yang secara sadar membela kepentingan kaum tertindas musthadafien dan kaum terpinggirkan. Ia dapat berbicara dengan kaumnya, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti kaumnya sehingga membakar semangat perjuangan mereka. Cendekiawan tidak hanya berhenti dalam mengambil kesimpulan terhadap fenomena yang ada namun juga berani mengambil sikap terhadap sebuah persoalan. Ilmuwan hanya menilai fakta, sementara cendekiawan telah sampai pada tahap menentukan nilai dan bersikap. Sedangkan intelektual sendiri menurut Antonio Gramsci, pemikir dari Italia dengan konsep intelektual organiknya dimana ia adalah intelektual yang membersamai rakyat, menyatu dan memahami permasalahan masyarakat serta membela kepentingan-kepentingan rakyat. Artinya tidak hanya memiliki pengetahuan dan menjelaskannya akan tetapi menggunakannya untuk kepentingan masyarakat.
Lebih jauh, tokoh revolusi Islam Ali Syariati menegaskan intelektual harus memainkan peran strategis mencerahkan lapisan masyarakat yang tertinggal. Ali Syariati mengungkap tugas intelektual adalah sebagai Rausyan Fikr, mencerahkan lapisan masyarakat yang terpinggirkan. Sehingga upaya advokasi kebijakan secara vertikal dan pencerdasan secara horizontal merupakan usaha pengentasan rakyat dari penindasan, kondisi terpinggirkan, pembodohan dan kebodohan secara berkelanjutan. Dan pada akhirnya bukanlah tidak mungkin kondisi yang diidealkan dalam konsep Civil Society atau masyarakat sipil bisa tercapai.
Sebagai mahasiswa Islam tentu memiliki peran dan tanggungjawab yang cukup besar baik sebagai intelektual ataupun seorang cendikiawan muslim. Sebagai intelektual dan cendikiawan muslim, mahasiswa Islam haruslah sadar akan hak dan kewajibannya sebagai seorang muslim dan seorang mahasiswa yang mempunyai peran dan tanggunggjawab kepada umat manusia yakni memberikan dharma bhaktinya untuk mewujudkan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi mahasiswa Islam yang menjadikan nilai islam sebagai sumber nilai. Sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan serta bersifat independen, tujuan HMI jelas yakni terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang benafaskan islam dan betanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah subhanahu wata’ala. Disamping itu HMI juga sadar mengakui bahwa dengan melihat realitas bangsa Indonesia yang kekurangan tenaga intelektual yang memiliki keseimbangan hidup antara pemenuhan tugas duniawi dan uhrowi, iman dan ilmu, individu dan masyarakat sehingga peranan kaum intelektual sangat besar dan merupakan kebutuhan paling mendasar untuk masa depan.
Lima kualitas insan cita, insan akademis, pencipta, pengabdi, insan bernafaskan Islam dan insan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridoi Allah subhanahuwata’ala, kesemua itulah yang menjadi tujuan HMI dalam melakukan kaderisasi. Disamping itu untuk memberikan wadah dalam berbagai kekaryaan dan minat bakat maka dibentuklah lembaga-lembaga profesi seperti LKMI, LAPMI dan sebagainya. Lembaga-lembaga tersebut dibentuk dengan tujuan menciptakan dan mempersiapkan kader-kader yang profesional. Hal itu merupakan usaha-usaha yang dilakukan HMI demi terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridoi Allah Subhanahu wata’ala.
Realitas yang terjadi saat ini dimana lembaga kekaryaan HMI yang kurang maksimal peranannya terlebih dalam peran praksis, membuat HMI seolah mengalami kemunduran dalam hal kekaryaan. Profesionalitas HMI utamanya untuk peran praksis di masyarakat, sebenarnya dapat ditunjang melalui lembaga-lembaga itu. Maka yang seharusnya dilakukan ialah mengembangkan kembali lembaga kekaryaan. Disamping untuk meningkatkan profesionalitas, lembaga kekaryaan HMI digunakan untuk srategi dalam mendekatkan HMI kepada masyarakat. Tentu berarti bisa dibilang lembaga kekaryaan HMI juga menjadi ujung tombak atau secara langsung berhadapan dengan masyarakat. Upaya tersebut juga sebagai usaha untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat melalui lembaga kekaryaan.
Kultur keilmuan dan intelektual HMI yang telah dimiliki HMI tetap harus dijaga dan dipertahankan. Disamping itu kekaryaan atau produk HMI yang bisa digunakan secara langsung oleh masyarakat juga harus ditingkatkan. Wadah-wadah pengabdian HMI untuk masyarakat haruslah dihidupkan dan dikembangkan. Harapannya konsep “ intelektual community ” yang dibangun melalui usaha-usaha efesien dan efektif dalam melakukan kaderisasi akan mampu menciptakan cendikiawan-cendikiawan Islam. Serta HMI yakin bahwa akan dapat mencapai lima kualitas HMI yakni insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridoi Allah Subhanahuwata’ala. Tentu semuanya saling berkaitan satu sama lain dalam keterwujudannya.

mahasiswa islam

Mahasiswa dipilih sebagai pelaku karena memiliki potensi yang besar sebagai agen perubahan. Mahasiswa sebagai segmen pemuda yang tercerahkan Karena memiliki kemampuan intelektual. Mahasiswa sebagai orang yang memiliki kemampuan logis dalam berfikir sehingga dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Sebagai bagian dari pemuda, mahasiswa juga memiliki karakter positif lainnya, antara lain idealis dan energik.dealis berari (sehrusnya) mahasiswa masih belum terkotori oleh kepentingan pribadi, juga belum terbebabni oleh beban sejarah atau beban posisi. Artinya mahasiswa masih bebas menempatkan diri pada posisi yang dia anggap terbaik, tanpa adanya resistansi yang lebih besar. Sedangkan energik berarti pemuda biasanya siap sedia melakukan “kewajiban” yang dibebankan oleh suatu ideology manakala dia telah meyakini kebenaran ideology itu.
Dengan potensi itu, wajar jika pada setiap zaman kemudian pemuda memegang peranan pening dalam perubahan kaumnya. Kita lihat kisah Ibrahim as sang pembaharu, atau kisah pemudi kahfi (Q.S. 18: 9-26) yang masing-masing sigap menerima kebenaran.
Ada ulama yang kemudian menyampaikan bahwa pemuda memiliki 3 peran:
1.Sebagai generai penerus (Q.S Ath Thur : 21); meneruskan nilai-nilai kebaikan yag ada pada suatu kaum.
2.Sebagai generasi pengganti (Q.S. Maidah : 54); menggantikan kaum yang memang sudah rusak dengan karakter mencintai dan dicintai Allah, lemah lembut kepada kaum mu’min, tegas kepada kaum kafir, dan tidak takut celaan orang yang mencela.
3.Sebagai generai pembahari (Q.S. Maryam : 42); memperbaiki dan memperbaharui kerusakan yang ada pada suatu kaum.
Islam adalah sebuah ideology yang memberikan energi besar bagi perubahan. Hal ini dimungkinkan karena karakter Islam yang syumul, mewarnai seluruh aspek kehidupn dan mengatur seluruh bagian manusia.
Berbicara tentang perubahan, tentunya akan memunculkan pertanyaan mengapa harus ada perubahan? Kondisi saat ini sangat jauh dari ideal. Tidak perlu kita pungkiri bahwa masyarakt (termasuk atau terutama di Indonesia) saat ini masih cukup jauh dari Islam. Contoh yang jelas tampak di permukaan adalah pada moral masyarakat, misalnya korupsi yang membudaya atau adanya pergaulan bebas. Oleh karena itu tidak salah jika ada ulama yanh mengatakan kondisi sekarang sebagai jahiliyah modern.
Melakukan perubahan adalah perintah si dalam ajaran Islam, sebagaimana dalam sebiuah hadits Rasulullah SAW menyatakan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung, orang yang hari ini sama dengan kemarin berarti rudi, dan orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin adalah celaka. Artinya kalau kita membiarkan kondisi statis tanpa perubahan –apalagi membiarkan perubahan ke arah yang lebih buruk- berarti kita tidak termasuk orang yang beruntung. Juga di dalam Ali Imran:104 Allah memerintahkan agar ada kaum yang menyeru kepada kebaikan –sebagai sebuah perubahan.
Dengan mengetahui sedimikian hebat dan canggihnya usaha musuh-musuh Islam khususnya Yahudi di dalam memurtadkan atau minimal mensekulerkan kaum muslimin, dan hasil usaha mereka telah mencengkeram berurat berakar pada tubuh kaum muslimin, tibul pertanyaan : Apakah kondisi yang demikian parah tidak dapat dirubah? Lalu siapakah yang mampu merubah kondisi tersebut? Dan bagaimana caranya?
Sudah merupakan sunatullah bahwa pergiliran kemenangan merupakan suatu kepastian yang akan terjadi. Maka perubahan menuju kejayaan Islam dan kaum muslimin bukanlah suatu hal yang mustahil. Yang paling bertanggungjawab akan kebangkitan Islam bukanlah orang lain melainkan tentu saja umat Islam itu sendiri, khususnya para pemuda pemudi dan lebih khusus lagi para mahasiswa dan mahasiswi Islam.
Sejarah membuktikan unsur utama perubah kekalahan menjadi kemenangan adalah generasi muda. Sejak zaman para nabi hingga sekarang para pemudalah yang menjadi garda depan perubahan kondisi ummat.
Para pemuda seharusnya menyadari bahwa inilah saat yang paling tepat untuk beubah dan ikut merubah kondisi. Rasulullah bersabda: Gunakanlah lima perkara sebelum dating lima perkara yaitu :

1.Hidupmu sebelum matimu
2.Kesehatanmu sebelum sakitmu
3.Masa luangmu sebelum kesibukanmu
4.Masa mudamu sebelum masa tuamu
5.Masa kayamu sebelum masa miskinmu

Untuk perisai bagi terjaganya waktu muda maka perlu memperhatikan suatu riwayat tentang adanya pertanyaan penting di akhirat kelak khususnya kepada para pemuda yakni:

1.Umurnya, untuk apa ia habiskan?
2.Tentang masa mudanya, juga untuk apa ia manfaatkan?
3.Hartanya, darimana ia peroleh dan kemana ia infakkan (keluarkan)?
4.Ilmunya, apa yang telah ia lakukan dengan ilmunya itu?


Masa muda memang penuh tantangan yang harus digunakan untuk mencapai kedewasaan, kematangan dan kepribadian Islami yang benar-benar tangguh. Seorang pemuda yang banyak melakukan penyimpangan akhlak, pemikiran dan tugas-tugas dimana letak keindahannya? Untuk itu Ia harus memperbaiki diri bersama Islam, bersama orang-orang shaleh, yang bersama-sama meningkatkan kualitas akhlaknya, Ilmu, wawasan, amal, kekuatan fisik dan kemandirian.